Gerakan Ayah Ambil Rapor di MIN 1 Kebumen: Kolaborasi Ayah, Guru, dan Asatidz Madin untuk Masa Depan Anak

 

Kebumen, 20 Juni 2026 – Suasana berbeda terlihat di MIN 1 Kebumen pada 19-20 Juni 2026. Para ayah tampak antusias menemani putra-putrinya mengambil rapor kenaikan kelas, bagian dari Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) yang digencarkan secara nasional untuk memperkuat peran ayah dalam pendidikan anak.

Gerakan ini didasari Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) Nomor 17 Tahun 2026, menyusul data memprihatinkan: 25,8 persen anak Indonesia tumbuh tanpa figur ayah (fatherless)—satu dari empat anak. Indonesia bahkan menjadi negara dengan tingkat fatherless tertinggi di Asia Tenggara, dengan lebih dari 50 persen anak mengaku tidak dekat secara emosional dengan ayahnya.

Dampaknya serius: anak berisiko kesulitan konsentrasi, prestasi rendah, krisis identitas, depresi, hingga kenakalan remaja. UNICEF menegaskan keterlibatan ayah berpengaruh kuat terhadap empati, rasa aman, dan kemampuan anak menghadapi tantangan hidup.

Kepala MIN 1 Kebumen, Hj. Widyastuti, menyambut baik inisiatif ini. “Kehadiran ayah saat pengambilan rapor menjadi bentuk perhatian dan dukungan moral luar biasa bagi anak-anak,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari Pemprov Jateng melalui Surat Edaran Kementerian Agama Tahun 2026 yang meminta ayah murid aktif mengikuti GEMAR.

Kisah Pak Ishaq: Menyempatkan Diri Meski Merantau

Salah satu momen bahagia terjadi pada Syakila, murid kelas 4B, yang rapor kenaikan kelasnya diambil langsung oleh ayahnya, Pak Ishaq. Padahal sehari-hari Pak Ishaq bekerja di luar kota, tepatnya di Tasikmalaya.

“Saya sengaja menyempatkan diri secara khusus datang ke madrasah untuk mengambilkan rapor putri saya. Saya berharap apa yang sudah diajarkan di madrasah akan bermanfaat bagi putrinya di masa depan,” ujar Pak Ishaq.

Ia mengungkapkan bahwa tahun lalu pun ia dan istrinya sudah bergantian dalam mengambil rapor saat kenaikan kelas. Tak hanya mendukung pendidikan formal, Pak Ishaq juga memasukkan Syakila ke les mengaji sore dan malam bersama ustadz, serta les renang.

“Agar main HP anak saya tidak terlalu kuat, maka saya ikutkan les dan mengaji agar waktunya lebih bermanfaat,” tambahnya.

Sementara itu, Syakila tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dengan polos ia berkata, “Seneng banget hari ini rapor diambil ayah. Soalnya jarang pulang, kayak Bang Toyib!”

Momen Syakila dan Pak Ishaq menjadi gambaran nyata betapa berharganya kehadiran ayah di tengah fenomena fatherless yang melanda negeri ini. Meski dibatasi jarak dan kesibukan, perhatian sekecil apapun dari seorang ayah mampu memberikan kebahagiaan dan rasa aman bagi anak.

Sinergi Guru Kelas dan Asatidz Madin Ar Rahmah

Di tengah upaya mengatasi krisis peran ayah, MIN 1 Kebumen juga menghadirkan kolaborasi antara guru kelas dan Asatidz Madin Ar Rahmah dalam memberikan rapor pendidikan agama sebagai penguatan karakter dan spiritual siswa.

Madrasah Diniyah membekali siswa dengan ilmu agama mendalam—fikih, tauhid, akhlak, tarikh, hadis, dan baca tulis Al-Qur’an—untuk mencetak generasi cerdas akademik sekaligus kuat spiritual.

Kolaborasi ini terwujud dalam:

· Penilaian Terpadu: Guru kelas dan asatidz bersama mengevaluasi capaian akademik dan keagamaan, dengan rapor Madin sebagai pelengkap rapor formal.
· Pendampingan Ibadah: Pembinaan langsung praktik ibadah, dari pembiasaan wudhu hingga bacaan sholat.
· Pembagian Peran Sinergis: Guru kelas fokus kurikulum nasional, asatidz Madin memperdalam pendidikan agama dengan intisari kitab klasik.
· Kegiatan Keagamaan Terintegrasi: Santri Madin dibekali keterampilan BTQ, ibadah dan panduan akhlaq keseharian.

Kehadiran Asatidz Madin Ar Rahmah dalam acara pembagian rapor menunjukkan komitmen MIN 1 Kebumen memberikan pendidikan holistik—menggabungkan keunggulan akademik dengan penguatan nilai keagamaan.

Kehadiran para ayah dan sinergi dengan asatidz Madin diharapkan menjadi energi baru bagi peningkatan prestasi siswa.

Gerakan ini diharapkan tidak berhenti pada momen pembagian rapor, tetapi menjadi awal keterlibatan ayah yang lebih besar dan pendidikan yang lebih utuh dalam setiap proses tumbuh kembang anak. D